There was an error in this gadget

Friday, 18 March 2011

Kezaliman Zionis

Adakah bayi ini membahayakan Zionis sehingga bayi ini menerima nasib sebegini?
atau budak ini merupakan satu ancaman kepada mereka?
Inilah "Ketenangan" yang dijanjikan oleh Zionis.

Atau ibu yang sedang melindungi anaknya merupakan suatu ancaman?



Di manakah kita umat Rasulullah SAW ketika saudara se-Islam sedang berjihad mempertahankan tanah yang bersejarah dalam Islam? Tempat pembinaan Masjidil al-Aqso dan tempat nabi dimikrajkan.Di manakah kita apabila Palestine dihujani peluru?
Adakah kita sibuk mengejar dunia tanpa memikirkan nasib mereka ini?
Adakah kita sibuk berfesyen atau sibuk berkasih antara bukan muhrim?
Tanyalah diri masing-masing....
Sesungguhnya merupakan tanggungjawab seorang Muslim melindungi Seorang Muslim yang lain kerana kita merupakan saudara.
Sekiranya kita terdaya menyumbang wang atau benda kita harus terus merus menentang sikap Zionis yang zalim (Laknatullah)
Doakanlah agar orang Palestin sentiasa teguh berdiri menentang Zionis.....


Jihad merupakan tulang belakang Islam. Kedudukan orang-orang yang berjihad amatlah tinggi di syurga, begitu juga di dunia. Mereka mulia di dunia dan di akhirat. Rasulullah adalah orang yang paling tinggi darjatnya dalam jihad. Beliau telah berjihad dalam segala bentuk dan macamnya. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad, baik dengan hati, dakwah, keterangan (ilmu), pedang dan senjata. Semua waktu beliau hanya untuk berjihad dengan hati, lisan dan tangan beliau. Oleh sebab itulah, beliau amat harum namanya (di sisi manusia) dan paling mulia di sisi Allah.
Allah memerintahkan beliau untuk berjihad sejak beliau diutus sebagai Nabi, Allah berfirman:

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar.” [Al-Furqon : 51-52]

Surat ini termasuk surat Makiyah yang didalamnya terdapat perintah untuk berjihad melawan orang-orang kafir dengan hujjah dan keterangan serta menyampaikan Al-Qur’an. Demikian juga, jihad melawan orang-orang munafik dengan menyampaikan hujjah karena mereka sudah ada dibawah kekuasaan kaum muslimin, Allah ta’ala berfirman :

Ertinya : Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” [At-Taubah : 73]

Jihad melawan orang-orang munafik (dengan hujjah) lebih sulit daripada jihad melawan orang-orang kafir (dengan pedang), karena (jihad dengan hujjah) hanya bisa dilakukan orang-orang khusus saja yaitu para pewaris nabi (ulama). Yang bisa melaksanakannya dan yang membantu mereka adalah sekelompok kecil dari manusia. Meskipun demikian, mereka adalah orang-orang termulia di sisi Allah.[2]

Termasuk semulia-mulianya jihad adalah mengatakan kebenaran meskipun banyak orang yang menentang dengan keras seperti menyampaikan kebenaran kepada orang yang dikhuwatirkan gangguannya. Oleh sebab inilah, para Rasul SAW - termasuk yang paling sempurna
Jihad melawan musuh-musuh Allah di luar (kaum muslimin) termasuk cabang dari jihadnya seorang hamba terhadap dirinya sendiri (hawa nafsu) di dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi :

“Ertinya : Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya dalam mentaati Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah” [Hadits Riwayat Ahmad dan sanadnya jayyid/baik]

Oleh sebab itu, jihad terhadap diri sendiri lebih didahulukan daripada jihad
 melawan orang-orang kafir . Seorang hamba jika tidak berjihad terhadap dirinya sendiri dalam mentaati perintah Allah dan meninggalkan apa yang dilarang dengan ikhlas kerana-Nya, adakah boleh dia berjihad melawan orang-orang kafir[3]. Bagaimana dia boleh melawan orang-orang kafir sedangkan musuh (hawa nafsu) nya yang berada di samping kiri dan kanannya masih menguasainya dan dia belum berjihad melawannya karena Allah. Tidak akan mungkin dia keluar berjihad melawan musuh (orang-orang kafir) sehingga dia mampu berjihad melawan hawa nafsunya untuk keluar berjihad.[4]

Kedua musuh itu adalah sasaran jihad seorang hamba. Tapi masih ada yang ketiga, yang dia tidak mungkin berjihad melawan keduanya kecuali setelah mengalahkan yang ketiga ini. Dia (musuh yang ketiga ini) selalu menghalang, menipu dan menggoda hamba agar tidak berjihad melawan hawa nafsunya. Dia sentiasa mengambarkan kepada seorang hamba bahwa berjihad melawan hawa nafsu amatlah berat dan harus meninggalkan kelezatan dan kenikmatan (dunia). Tidak mungkin dia berjihad melawan kedua musuhnya tadi kecuali terlebih dahulu berjihad melawannya. Musuh yang ketiga itu adalah syaitan, Allah ta’ala berfirman :

“Ertinya : Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu)” [Faathir : 6]

Perintah untuk menjadikan syaitan sebagai musuh merupakan peringatan agar (seorang hamba) mengerahkan segala kekuatan dalam memeranginya, kerana musuh tersebut tidak pernah lelah dan lemah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa.
(Kemudian beliau berkata) Jika hal diatas sudah dierti maka jihad terbagi menjadi empat tahapan [5]:

[1]. Jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu), dan hal ini terbahagi lagi menjadi empat tingkatan
  • a. Berjihad dalam menuntut ilmu agama yang tidak akan ada kebahagiaan di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Barangsiapa yang ketinggalan ilmu agama maka dia akan sengsara di dunia dan di akhirat.
  • b. Berjihad dalam mengamalkan ilmu yang dia pelajari, kerana ilmu tanpa amal , tidak berguna.
  • c. Berjihad dalam dakwah (menyeru manusia) kepada ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada yang tidak tahu. Jika tidak, maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu yang telah diturunkan Allah dan tidak akan bermanfaat ilmunya serta dia tidak akan selamat dari azab Allah.
  • d. Berjihad dalam bersabar menghadapi rintangan di jalan dakwah serta gangguan manusia kerana Allah.
Jika seorang hamba telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka dia tergolong Robbaaniyyiin. Barangsiapa yang mengetahui (kebenaran) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya, maka dia akan tersanjung dalam kalangan para penghuni langit.
[2]. Jihad melawan syaitan, dan hal ini terbagi menjadi 2 bahagian :
  • a. Berjihad dalam menolak syubhat (keraguan) dan keraguan dalam keimanan
  • b. Berjihad dalam menolak bisikan syahwat Jihad yang pertama akan melahirkan keyakinan dan jihad yang kedua akan menghasilkan kesabaran Allah ta’ala berfirman :
“Ertinya : Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” [As-Sajdah : 24]

    Allah ta’ala berfirman bahawa kepemimpinan dalam agama dapat diperoleh hanya dengan kesabaran dan keyakinan. Kesabaran dapat menolak nafsu syahwat sedangkan keyakinan bisa menolak keraguan.
[3]. Jihad melawan orang-orang kafir dan munafik. Hal ini meliputi empat hal : jihad dengan hati, lisan, harta dan jiwa raga. Berjihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan dan berjihad melawan orang-orang munafik lebih dikhususkan dengan lisan.

[4]. Jihad melawan orang-orang zalim, ahli bid’ah, dan pembuat kemungkaran. Hal ini memiliki tiga tahap. Dengan tangan bila mampu, jika tidak mampu, dengan lisan dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.
Inilah tiga belas tahap dalam jihad dan (Barangsiapa yang mati dan tidak berjihad serta tidak pernah membisikkan dalam dirinya untuk berjihad maka dia mati dalam cabang kemunafikan) [6]
Dan tidak akan sempurna jihad melainkan dengan hijrah dan tidak ada hijrah serta jihad tanpa keimanan [7]. Orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah adalah orang-orang yang menjalankan ketiga hal tersebut, Allah ta’ala berfirman

“Ertinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqoroh : 218]

Sebagaimana keimanan adalah kewajiban bagi setiap orang, maka diwajibkan pula kepada mereka dua hijrah di setiap saat :
[1]. Berhijrah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, ikhlas, bertaubat, tawakkal, mengharap, dan cinta kepada-Nya.
[2]. Berhijrah kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnah beliau, tunduk kepada perintah beliau, membenarkan kabar yang beliau sampaikan serta mendahulukan perintah beliau daripada perintah yang lainnya. Nabi bersabda yang ertinya :

“Ertinya : Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah kepada dunia atau perempuan yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan”.[8]

Perintah untuk jihad melawan hawa nafsu dalam mentaati Allah dan jihad melawan syaitan adalah fardhu ain. Adapun jihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah fardhu kifayah.


Tentanglah kezaliman Zionis secara berterus-terusan........ALLAHUAKHBAR 

No comments:

Post a Comment